Pengertian Akad, Jenis – Jenis dan Manfaat Akad

Secara bahasa akad adalah perjanjian tertulis yang memuat ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan). Sedangkan menurut istilah akad adalah transaksi atau kesepakatan antara seseorang (yang menyerahkan) dengan orang lain (yang menerima) untuk pelaksanaan suatu perbuatan.

Syarat Akad

Ada rukun, ada pula syarat akad yakni hal-hal yang harus dipenuhi agar akad dinyatakan sah. Adapun syarat akad adalah sebagai berikut:

  1. Syarat orang yang bertransaksi antara lain : berakal, baligh, mumayis dan orang yang dibenarkan secara hukum untuk melakukan akad.
  2. Syarat barang yang diakadkan antara lain : bersih, dapat dimanfaatkan, milik orang yang melakukan akad dan barang itu diketahui keberadaannya.
  3. Syarat sighat: dilakukan dalam satu majlis, ijab dan qabul harus ucapan yang bersambung, ijab dan qabul merupakan pemindahan hak dan tanggung jawab.

Rukun Akad

Dilihat dari pengertiannya, dalam melakukan akad berarti setidaknya harus ada dua pihak yang terlibat. Pihak-pihak ini termasuk dalam rukun akad. Berikut rukun akad.

  1. Dua orang atau lebih yang melakukan akad (transaksi) disebut Aqidain.
  2. Sighat (Ijab dan Qabul), selain dua pihak, dalam akad harus ada ijab dan qabul atau pernyataan memberi dan menerima dari kedua belah pihak.
  3. Ma’qud ‘alaih (sesuatu yang diakadkan). Nah, rukun ketiga ini adalah harus ada benda atau hal yang diakadkan. Misalnya jual beli tanah, maka tanah adalah ma’qud alaih.

Jenis – Jenis Akad

Ada beberapa jenis akad sesuai dengan tujuannya. Ada akad yang dilakukan lisan, tulisan, dengan kode dan lainnya. Selain itu akad juga dibagi atas beberapa hal yang mendasarinya seperti, tujuan, terkait harta, konsekuensi, sisi serah terima, dan lainnya. Berikut ini merupakan jenis jenis akad :

1. Jenis Akad Ditinjau dari Keterkaitannya dengan Harta

  • Akad maliyah, yaitu semua akad yang melibatkan harta atau benda tertentu. Baik untuk transaksi komersial, seperti jual-beli maupun non komersial, seperti hibah, hadiah.
  • Akad ghairu maliyah, adalah akad yang hanya terkait dengan perbuatan saja tanpa ada kompensasi tertentu. Seperti akad hudnah (perjanjian damai), mewakilkan, wasiat, dll.

Ada akad yang di satu sisi adalah maliyah (akad yang melibatkan harta atau benda tertentu) dan lainnya ghairu maliyah (akad yang hanya terkait dengan perbuatan saja tanpa ada kompensasi tertentu). Contohnya: akad nikah, khulu’, shulhu, dan sebagainya.

2. Akad Ditinjau dari Konsekuensinya

Akad lazim, adalah akad yang mengikat semua pihak yang terlibat, sehingga masing-masing pihak tidak punya hak untuk membatalkan akad kecuali dengan kerelaan pihak yang lain. Contoh: akad jual-beli, sewa-menyewa, hiwalah, dan semacamnya.
Akad jaiz atau akad ghairu lazim, adalah akad yang tidak mengikat. Artinya salah satu pihak boleh membatalkan akad tanpa persetujuan rekannya. Contoh: akad pinjam-meminjam, wadi`ah.

3. Akad Ditinjau dari Keterkaitan dengan Hak Pilih

  • Akad khiyar majlis dan khiyar syaratn contohnya akad jual beli yang tidak dipersyaratkan adanya qabdh (serah terima), transaksi jasa untuk suatu pekerjaan tertentu.
  • Akad yang dipersyaratkan adanya qabdh (serah terima) di tempat transaksi. Seperti transaksi tukar-menukar uang, transaksi salam, dan transaksi tukar menukar barang ribawi. Semua transaksi ini tidak boleh ada khiyar.
  • Akad mengikat namun bukan komersial. Seperti akad pernikahan, khulu`, wakaf, atau hibah. Semua akad ini tidak ada hak pilih untuk membatalkan dari salah satu pihak.
  • Akad yang hanya mengikat salah satu pihak namun tidak mengikat pihak lainnya. Seperti akad rahn (gadai), yang mengikat bagi pihak rahin (orang yang menggadaikan barang).
  • Akad jaiz dari semua pihak yang terlibat transaksi. Seperti akad syirkah, mudharabah, ju’alah, wakalah, wadi’ah, atau wasiat. Pada kasus transaksi semacam ini tidak ada hak khiyar karena masing-masing bebas menentukan keberlanjutan transaksi tanpa harus ada persetujuan dari pihak lain.
  • Akad pertengahan antara jaiz dan lazim, seperti musaqah dan muzara`ah. Yang lebih mendekati kebenaran, keduanya adalah akad jaiz. Sehingga tidak perlu ada hak khiyar, karena masing-masing pihak memiliki wewenang untuk membatalkan transaksi tanpa persetujuan pihak lain.
  • Akad lazim, dimana salah satu pihak transaksi tidak terikat. Contoh akad hiwalah.  Dalam akad ini tidak ada khiyar, karena pihak yang tidak ditunggu persetujuannya tidak memiliki hak khiyar.

4. Akad Ditinjau dari Tujuannya

  • Akad Tabarru` (akad non komersial). Contoh akad hibah, `ariyah, wadi`ah, wakalah, rahn, wasiat, hutang-piutang, dll
  • Akad Mu`awadhat (akad komersial). Contoh: jual beli, salam, tukar-menukar mata uang, ijarah, istishna`, mudharabah, muzara`ah, musaqah, dll.

5. Akad Berdasarkan Sah dan Tidaknya

  • Akad yang sah. Akad dianggap sah jika semua syarat dan rukunnya terpenuhi. Konsekuensi akad yang sah adalah adanya perpindahan hak kemanfaatan dalam sebuah transaksi. Misalnya, dalam akad jual beli yang sah maka konsekuensinya, penjual berhak mendapatkan uang dan pembeli berhak mendapatkan barang.
  • Akad yang tidak sah. Kebalikan dari akad yang sah, akad dianggap tidak sah jika tidak diakui secara syariat dan tidak memberikan konsekwensi apapun. Baik karena bentuk transaksinya yang dilarang, seperti judi, riba, jual beli bangkai, dst.

6. Akad Terkait Adanya Qabdh (Serah Terima)

  • Akad yang tidak dipersyaratkan adanya qabdh di tempat akad. Misalnya akad jual beli secara umum, ijarah, nikah, wasiat, wakalah, hiwalah, dan yang lainnya. Dalam akad jual beli, transaksi jual beli sah jika sudah ada ijab-qabul. Baik sekaligus dilakukan serah terima barang maupun serah terimanya ditunda. Demikian pula akad nikah. Tepat setelah akad, masing-masing telah berstatus suami istri, baik serah terima mahar dilakukan di tempat akad maupun ditunda.
  • Akad yang dipersyaratkan adanya qabdh di tempat transaksi. Akad yang dipersyaratkan adanya qabdh untuk dinyatakan sah berpindahnya kepemilikan. Meskipun akadnya dianggap sah sebelum adanya qabdh, namun kepemilikan belum berpindah sampai Seperti hibah, hutang, atau `ariyah (pinjam-meminjam).

7. Ditinjau dari Terlaksananya Transaksi

  • Akad Nafidz (terlaksana). Akad dianggap nafidz ketika akad tersebut sah dan tidak ada lagi keterkaitan dengan hak orang lain. Contoh akad jual beli yang sempurna. Barang yang dijual tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain, sementara uang yang diserahkan adalah murni milik pembeli.
  • Akad Mauquf (menggantung). Akad mauquf adalah akad yang masih memiliki keterkaitan dengan hak orang lain. Seperti menjual barang orang lain tanpa izin. Mayoritas ulama berpendapat bahwa akad mauquf hukumnya sah, hanya saja konsekuensi akad bergantung pada pemilik barang atau pemilik uang. Sehingga pembeli tidak boleh menerima barang sampai mendapatkan izin dari pemiliknya.

8. Akad Ditinjau dari Batas Waktunya

  • Akad Muaqqat (terbatas dengan batas waktu tertentu). Akad muaqqat adalah semua akad yang harus dibatasi waktu tertentu. Misalnya: ijarah, musaqah, atau hudnah (perjanjian damai).
  • Akad yang tidak boleh dibatasi waktu tertentu. Misalnya: akad nikah, jual beli, jizyah, atau wakaf. Tidak boleh seseorang nikah untuk jangka waktu tertentu. Demikian pula terlarang menjual barang, tetapi untuk jangka waktu tertentu.

Manfaat Akad

Akad memberi manfaat kepada kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Dengan adanya akad, transaksi menjadi jelas dan tidak akan ada salah satu pihak yang dirugikan. Berikut ini manfaat akad secara umum:

  • Munculnya pertanggung jawaban moral dan material.
  • Timbulnya rasa ketentraman dan kepuasan dari kedua belah pihak.
  • Terhindarnya perselisihan dari kedua belah pihak.
  • Terhindar dari pemilikan harta secara tidak sah.
  • Status kepemilikan terhadap harta menjadi jelas.

Dengan adanya ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan) maka sudah jelas bahwa akad harus dilakukan oleh dua orang atau bisa lebih dengan adanya sesuatu yang diakadkan, akad pun tentunya harus dilakukan oleh orang yang sudah baligh dan berakal.

Sekian artikel mengenai Ulansan Lengkap Tentang Akad. Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Terima kasih.