Cara Menulis Kultum dan 12 Contohnya

Apa sih perbedaan ceramah dan kultum? Bukankah sama saja berisi tentang nasihat, petuah, petunjuk, dan ajaran dalam agama Islam?

Memang ceramah dan kultum merupakan hal yang sama yang membedakannya ialah durasi dalam penyampaiannya. Singkatnya seperti berikut:
Ceramah merupakan kegiatan berbicara didepan umum, untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, durasinya lebih dari 7 menit, bisa mencapai 15 menit, 30 menit dan lebih lama lagi.

Kultum merupakan singkatan dari kuliah tujuh menit, kultum semacam ceramah agama namun durasinya hanya sebentar sesuai dengan sebutannya. Kultum ini biasa digunakan untuk mengisi jeda waktu menunggu adzan berkumandang dan sebagainya.

Cara Menulis Kultum

Berikut merupakan urutan cara menulis kultum dengan sistematis:

  1. Tentukan Tema
    Tema yang dipilih sebaiknya tema yang sesuai dengan audience. Selain agar menarik untuk didengar, tema tersebut juga akan bermanfaat dan lebih tepat sasaran.
  1. Mengkaji point penting yang perlu disampaikan
    Mengingat kultum merupakan kegiatan dengan durasi yang sangat singkat. Maka kamu harus mengetahui point apa saja yang memang harus disampaikan.
  1. Susun Teks Kultum
    Meskipun kultum memiliki durasi waktu yang singkat, namun kamu tetap perlu menyusun teks kultum dengan baik apalagi untuk seorang pemula. Karena waktu yang singkat tersebut harus dapat kamu gunakan sebaik mungkin.

Susunan Teks Kultum

Susunan teks kultum ini secara garis besar hampir sama dengan susunan teks pada ceramah, namun lebih padat dan singkat yakni:

  1. Pembuka
    Pada bagian pembukaan, teksnya berisi salam pembuka dan ucapan syukur.
  1. Isi Ceramah
    Isi ceramah pada kultum ini sangat rapat dan padat karena mengingat waktunya yang singkat. Maka seringkali pembahasannya pun merupakan pembahasan yang ringan namun tentunya tetap ada manfaatnya.
  1. Salam Penutup
    Pada bagain ini penceramah menyampaikan salam penutup sekaligus permintaan maaf apabila saat penyampaiannya materi kultum terdapat suatu perkataan maupun tindakan yang kurang berkenan.

Susunan Teks Kultum

Contoh Kultum

Berikut beberapa contoh kultum berbagai topik pembahasan. Semoga dengan adanya contoh ini dapat membantu anda yang sedang menulis / membuat kultum.

1. Kultum Tentang Ikhlas

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Pertama-tama dan yang paling utama, marilah kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah dan masih memberi kita banyak sekali nikmat sehingga dengan nikmat-nikmat itu kita masih bisa melaksanakan perintahnya dengan baik.

Yang kedua, semoga sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang dengan perjuangan beliau dan para sahabatnya kita bisa merasakan manisnya iman dan indahnya islam. Dan juga kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman kelak, amiin ya Rabbal a’lamiin.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menyampaikan Kultum Singkat Tentang Ikhlas. Ikhlas dalam arti yang sering kita pahami adalah, melakukan sesuatu tanpa mengharap imbalan apa-apa. Pengertian ini sedikit banyak sudah benar, hanya saja kurang tepat.

Dalam agama kita, ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah Subhanahu wa ta’ala. ikhlas sendiri mempunyai banyak sekali dimensi dalam kehidupan sehari-hari kita. Contoh, ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam beramal, ikhlas dalam mengajar, ikhlas dalam beribadah, dll.

Nah, contohnya apabila kita masukkan dalam konteks ibadah, maka ikhlas berarti melakukan ibadah karena Allah SWT, bukan yang lain, bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin terlihat soleh, tapi benar-benar semata-mata hanya karena Allah.

Allah berfirman dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya: ” Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk mengikhlaskan agama untuk-Nya.”

Ayat diatas menerangkan pada kita tentang berlaku ikhlas dalam beragama. Agama apabila tidak dilandasi dengan ikhlas dan kejujuran akan runyam dan seolah tak berbekas. Orang sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri tanpa sedikitpun menempatkan agama dalam prioritas hidupnya.

Fenomena diatas banyak sekali terjadi disekitar kita, bahkan mungkin tanpa sadar kita termasuk dalam arus masyarakat yang seperti itu, Naudzubillahimindzalik. Semoga kita dihindarkan oleh Allah dari sifat seperti itu. Ikhlas dalam beragama menjadi sangat penting untuk pupuk dalam diri karena dengannya semua urusan menjadi lebih terang dan mudah untuk dijalankan.

Ikhlas juga menjadi penting untuk dipraktik kan karena setiap amalan yang kita lakukan tidak sah di mata Allah apabila tidak tanpa nya. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih muslim, diceritakan tentang suatu perkara yang akan terjadi nanti pada hari akhir dihadapan Allah.

Saya kutip satu kisahnya, dikatakan nanti dihadapan Allah: Ada seorang hamba ditanya oleh Allah “Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku?” Ia menjawab, “Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah, sehingga saya mati syahid.” Allah berkata “Dusta kamu! Sebenarnya kamu berperang bukan karena-Ku, melainkan agar disebut orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.” Kemudian Allah memerintahkan agar dia dicampakkan dan dilempar ke neraka.

Kutipan hadist shahih diatas adalah contoh orang yang beribadah dengan tidak ikhlas dan mengharap selain-Nya. Kisah ini menjadi tamparan keras bagi kita yang masih sering beribadah atau melakukan sesuatu bukan karena-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah lindungi dari hal-hal seperti itu

Dalam beramal juga ikhlas menjadi barometer  sebesar apa pahala yang kita dapat. Semakin ikhlas seseorang dalam beramal semakin besar juga balasan yang diterima, semakin murni karena Allah dia melakukan sesuatu, maka semakin bernilai amalan itu di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Nah, setelah memahami urgensi berlaku ikhlas, maka hendaknya kita mulai memupuk dan melatih diri kita untuk ikhlas dalam segala hal. Sehingga apa yang telah Rasulullah siratkan dalam hadist nya tidak terjadi pada kita. Amiin

Saya kira cukup dulu Kultum Singkat Tentang Ikhlas ini, semoga apa yang telah saya sampaikan bisa bermanfaat bagi anda semua.

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

2. Kultum Tentang Menjaga Kehormatan dan Harga Diri

 

Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Menuju Muslim Progresif dengan Menjaga Kehormatan dan Harga Diri

Secara literal, progresif berarti maju. Term ini digunakan untuk menunjukkan adanya perkembangan dan kemajuan sesuatu. Muslim progresif merupakan istilah yang disandang oleh para umat Islam yang gagah berani membawa panji Islam bergerak menuju Islam yang lebih selaras dan sesuai dengan tuntutan kemajuan dan modernitas saat ini. Istilah tersebut merupakan turunan dari Islam progresif.[4]

Islam progresif menawarkan metode ber-islam yang menekankan terjadinya keseimbangan dan keadilan sosial. Jika diperhatikan, benih kemunculan semangat menegakkan keadilan dan keseimbangan telah muncul beriringan dengan kemunculan agama Islam itu sendiri. Islam agama yang ramah, santun dan selalu menghormati kehormatan dan harga diri setiap individu.

Sebagai qudwah, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu saling menghargai satu sama lain. Tidak hanya itu, beliau juga menganjurkan kepada umatnya untuk selalu menjaga kehormatan, keselamatan dan perkembangan dirinya dan para generasinya. Allah SWT berfirman:

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Ayat tersebut seakan memberikan kobaran api bagi umat muslim untuk selalu memperhatikan kekuatan dan kemampuan dirinya dan generasinya. Islam tidak mewariskan budaya malas, menyerah dan lemah pada generasinya. Seorang muslim harus berani maju menyurakan agama Allah dan dapat menjaga harga diri agamanya dengan baik. Seorang muslim yang selalu memperjuangkan harga diri, baik bagi dirinya maupun harga diri seseorang akan selalu berusaha untuk tetap berlaku adil dan selaras sehingga mempunyai prospek maju dan berkembang. Kpribadian muslim semacam inilah yang seharusnya tumbau pada setiap sanubari.

Sikap progresif tumbuh dalam hati seorang muslim yang benar-benar beriman kepada Allah, mempunyai semangat tinggi memperjuangkan agamanya. Seseorang tidak cukup memperhatikan pada masanya saja, prospek masa depan harus ditata sedemekian rupa sehingga dapat menelurkan bibit-bibit muda yang unggul yang memepunyai orientasi jelas dalam membela keadilan, memperjuangkan kehormatan dan harga diri.

Kesimpulan dari materi kajian singkat ini adalah iman merupakan pokok dari segala pokok, dalam diri seseorang terdapat rahasia yang harus diperjuangkan yaitu kehormatan dan harga diri. Seorang muslim harus berjuang mempertahankan dan meningkatkan harga dirinya. Tidak hanya itu, harga diri keluarga, bangsa, negara, dan agama harus senantiasa dijaga dan dilestarikan.

Peran iman sangat fundamental dalam menumbuhkan semangat memproteksi diri dari segala kemaksiatan dan kehinaan. Iman juga memberikan motivasi tinggi bagi seorang muslim untuk melangkah dan bergerak penuh kepercayaan dalam menjalani realita kehidupan. Dengan kpribadian muslim seperti ini, diharapkan umat muslim berubah menjadi progresife moslems.

Wasalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

3. Kultum Tentang Bahaya Minuman Keras / Khamr

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulilahirabil alamin washolatu wasshalamun ala asrofil ambyai wal mursalin wa ala alihi was shahbihi ajmain Pertama-tama Marilah kita Panjatkan Puji Syukur atas kehadirat Allah swt karena atas limapahan kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal afiat.

kali ini saya akan membawakan kultum dengan judul “bahaya minuman keras/khamr”

Khamar berasal dari bahasa Arab artinya menutupi. Jenis minuman yang memabukkan (menutupi kesehatan akal). Sebagian ulama seperti Imam Hanafi memberikan pengertiankhamar sebagai nama (sebutan) untuk jenis minuman yang dibuat dari perasan anggur sesudah dimasak sampai mendidih serta mengeluarkan buih dan kemudian menjadi bersih kembali. Sari dari buih itulah yang mengandung unsur yang memabukkan. Ada pula yang memberi pengertian khamar dengan lebih menonjolkan unsur yang memabukkannya. Artinya, segala jenis minuman yang memabukkan disebut khamar, hukum khamr adalah haram. Minum khamr tidak akan diterima sholat nya selama 40 hari,

orang yang suka meminum arak (mabuk-mabukkan) di akhirat kelak akan diazab dengan diberi minuman yang sangat menjijikan yang berasal dari kemaluan para pelacur, sedangkan para penduduk neraka tersebut sangat terganggu dengan bau kemaluan mereka. Untuk itu agar terhindar dari adzab seperti itu maka sebaiknya kita menghindari dan menjauhi apapun yang sudah Allah larang untuk kita. Karena hal itu akan membawa kebaikan bagi kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu),” (QS. Al-Maadiah: 90-91).

Sekian dari saya bila ada slah nya saya mohon maaf.

Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

4. Kultum Tentang Berlaku Ikhlas dalam Beribadah

 

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Pertama-tama dan yang paling utama, marilah kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah dan masih memberi kita banyak sekali nikmat sehingga dengan nikmat-nikmat itu kita masih bisa melaksanakan perintahnya dengan baik.

Yang kedua, semoga sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang dengan perjuangan beliau dan para sahabatnya kita bisa merasakan manisnya iman dan indahnya islam. Dan juga kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman kelak, amiin ya Rabbal a’lamiin.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menyampaikan Kultum Singkat Tentang Ikhlas. Ikhlas dalam arti yang sering kita pahami adalah, melakukan sesuatu tanpa mengharap imbalan apa-apa. Pengertian ini sedikit banyak sudah benar, hanya saja kurang tepat.

Dalam agama kita, ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah Subhanahu wa ta’ala. ikhlas sendiri mempunyai banyak sekali dimensi dalam kehidupan sehari-hari kita. Contoh, ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam beramal, ikhlas dalam mengajar, ikhlas dalam beribadah, dll.

Nah, contohnya apabila kita masukkan dalam konteks ibadah, maka ikhlas berarti melakukan ibadah karena Allah SWT, bukan yang lain, bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin terlihat soleh, tapi benar-benar semata-mata hanya karena Allah.

Allah berfirman dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya: ” Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk mengikhlaskan agama untuk-Nya.”

Ayat diatas menerangkan pada kita tentang berlaku ikhlas dalam beragama. Agama apabila tidak dilandasi dengan ikhlas dan kejujuran akan runyam dan seolah tak berbekas. Orang sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri tanpa sedikitpun menempatkan agama dalam prioritas hidupnya.

Fenomena diatas banyak sekali terjadi disekitar kita, bahkan mungkin tanpa sadar kita termasuk dalam arus masyarakat yang seperti itu, Naudzubillahimindzalik. Semoga kita dihindarkan oleh Allah dari sifat seperti itu. Ikhlas dalam beragama menjadi sangat penting untuk pupuk dalam diri karena dengannya semua urusan menjadi lebih terang dan mudah untuk dijalankan.

Ikhlas juga menjadi penting untuk dipraktik kan karena setiap amalan yang kita lakukan tidak sah di mata Allah apabila tidak tanpa nya. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih muslim, diceritakan tentang suatu perkara yang akan terjadi nanti pada hari akhir dihadapan Allah.

Saya kutip satu kisahnya, dikatakan nanti dihadapan Allah: Ada seorang hamba ditanya oleh Allah “Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku?” Ia menjawab, “Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah, sehingga saya mati syahid.” Allah berkata “Dusta kamu! Sebenarnya kamu berperang bukan karena-Ku, melainkan agar disebut orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.” Kemudian Allah memerintahkan agar dia dicampakkan dan dilempar ke neraka.

Kutipan hadist shahih diatas adalah contoh orang yang beribadah dengan tidak ikhlas dan mengharap selain-Nya. Kisah ini menjadi tamparan keras bagi kita yang masih sering beribadah atau melakukan sesuatu bukan karena-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah lindungi dari hal-hal seperti itu

Dalam beramal juga ikhlas menjadi barometer  sebesar apa pahala yang kita dapat. Semakin ikhlas seseorang dalam beramal semakin besar juga balasan yang diterima, semakin murni karena Allah dia melakukan sesuatu, maka semakin bernilai amalan itu di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Nah, setelah memahami urgensi berlaku ikhlas, maka hendaknya kita mulai memupuk dan melatih diri kita untuk ikhlas dalam segala hal. Sehingga apa yang telah Rasulullah siratkan dalam hadist nya tidak terjadi pada kita. Amiin

Saya kira cukup dulu Kultum Singkat Tentang Ikhlas ini, semoga apa yang telah saya sampaikan bisa bermanfaat bagi anda semua.

wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

5. Kultum Tentang Agama, Ilmu dan Kebijaksanaan

 

Agama lahir sebagai ajaran hidup, yang dengannya berkembang melalui jalan panjang menemukan bentuk baru, seiring dengan lahirnya komunitas baru pemeluknya serta ramainya pemahaman mengenainya. Agama yang lahir dari kearifan, mengubah bentuk menjadi agama yang difahami dengan keilmua. Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa agama dan ilmu memiliki keterkaitan erat. Agama tanpa ilmu itu buta, dan ilmu tanpa agama itu lumpuh.

Agama dan Ilmu selalu beriteraksi, berlaku timbal balik menemui bentuk yang saling menguntungkan. Ketidakhadiran salah satu akan membuat suatu ketimpangan dalam komunitas pemeluk agama.Posisi saling menguatkan ini akan menyeimbangkan dua dimensi yang tertanam -hampir- dalam semua agama, rasionalitas dan spritualitas, serta menjadi jembatan antara aspek-aspek lahiriahdengan aspek-aspek batiniah.

Keseimbangan ini akan melahikan pola keberagaman yang ideal, serta terhindar arah fundamentalisme agama, yang cenderung memiliki nuansa spiritualitas yang kuat, tapi dari segi rasionalitas lemah, menitikberatkan doktrin agamanya disatu sisi, dan di sisi lain tidak menerima masukan dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Ilmu secara defenisi difahami sebagai “memahami” –asal kata ‘alima-ya’lamu-‘ilman-. Sedangkan agama merupakan fenomena nilai universal yang dapat ditemukan dalam setiap masyarakat, kapan dan di mana saja serta tidak terikat oleh ruang dan waktu. Definisi ini difahami sebagai pemahaman dalam secara umum, adapun secara khusus barangtentu Islam –atau lainnya- sebagai agama memiliki defenisi tersendiri, baik secara kebahasaan (lughawi) maupun hukum (syar’i). Pemahaman umum ini disebut karena agama selalu menempati posisi dan peranan penting dalam kehidupan manusia, baik individual maupun sosial.

Agama Islam disebut juga dengan din al-islam, dikatakan juga dengan din karena agama Islam menganut penghambaan (penganutnya disebut dengan al-‘abdu) yang berarti: menundukkan, patuh, dll. Makna penghambaan ini juga sesuai dengan kandungan-kandungan agama yang didalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganutnya.

Agama, disamping tradisi, juga menunjukkan bagaimana seharusnya manusia berbuat baik dan menghindari kejahatan. Tanpa agama dapat dipastikan akan terjadi kehancuran, karena sepanjang peradaban manusia belum ada ajaran moral yang dihasilkan dari pemikiran manusia murni. Sentuhan agama lebih memuaskan naluri spiritual manusia daripada hasil kajian rasionalitas manusia.

Dengan adanya kitab suci, yang dibawa oleh utusan Allah –Nabi Muhammad SAW-, maka Islam menjadi agama yang memiliki aturan lebih terbukukan dan dijaga sampai lintas zaman.

Pada poin inilah, maka lahirnya generasi muslim baru mengaruskan adanya pemahaman kembali pada Kitab suci, yang telah diwariskanoleh pembawa pertama, disini lah Ilmu memiliki peran penting. Dalam beberapa ayat al-Qur’an dijelaskan bahwa aktivitas pemahaman, dan pemikiran tidak hanya dilakukan melalui akal yang berpusat di kepala semata (‘aql), namun juga dilakukan oleh hati (al-qalb) yang berpusat di dada.

Konsep al-Qur’an mengenai pemahaman memang sangt luas. Jika ditinjau dari segi kajian kemiripan kata (mutaradifah) saja, ada beberapa terminologi yang digunakan al-Qur’an untuk mengambarkan aktivitas berfikir/memahami, yakni:nazara (نظر), berarti melihat secara abstrakdalam arti berfikir dan merenungkan ( Q.S. Qaff: 6-7). Tadabbara (تدبر), berarti merenungkan (Q.S. Sha>d: 29), tafakkara (تفكر), berarti berfikir (Q.S. an-Nahl: 68-69), faqiha (فقه), berarti mengerti/faham (Q.S. al-Isra’: 44), tazakkara (تذكر), berarti mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan, dan mempelajari, dan fahima (فهم), yang berarti memahami (Q.S: al-Anbiya’: 78-79).

Lebih lanjut, al-Qur’an bahkan memberikan penghargaan dengan penyebutan tertentu kepada orang Muslim yang mau menggunakan akalnya untuk berfikir, seperti istilah: ulul-albab (أولو الألباب) orang yang berfikir, ulul-‘ilm(أولو العلم) orang yang berilmu, ulul absar (أولو الأبصار) orang yang mempunyai pandangan dan ulun-nuha (أولو النهى) orang yang bijaksana.

Ungkapan dan ekspresi yang diberikan oleh al-Qur’an diatasmengandung anjuran, dorongan dan motivasi, bahkan perintah agar manusia banyak berfikir dan mempergunakan akalnya.

Termasuk mempergunakan akal sebagai salah satu sumber ajaran Islam.Bahkan, dalam terminologi Qur’ani diatas, dengan jelas dan tegas al-Qur’an memberikan penghargaan kepada kaum Muslim yang memanfaatkan akal nya sebagainstrument dalam melakukan pemahaman, meskipun dengan tidak memutlakkan kebenarannya, karena disamping akal, ada wahyu yang perlu juga diperhatikan. Namun dengan ilmu agama akan menjadi lebih bersahabat dengan realitas pemeluknya, serta hati nurani pemeluk bisa tertata menjadi pemeluk agama yang bijaksana.

6. Kultum Tentang 9 Kekhususan dan Keistimewaan Ramadhan dalam Al-Qur’an dan Hadis

 

Kekhususan dan Keistimewaan Ramadhan – Dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan pada ayat lain dinyatakannya bahwa Al-Quran turun pada malam Qadar, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailat Al-Qadr.

Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar itu, yang menurut Al-Quran lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun seizin Tuhan, dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.

Di sisi lain, dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan, disisipkan ayat yang mengandung pesan tentang kedekatan Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan doa –siapa pun yang dengan tulus berdoa.

Dari hadis-hadis Nabi diperoleh pula penjelasan tentang keistimewaan bulan suci Ramadhan. Namun seandainya tidak ada keistimewaan bagi Ramadhan kecuali Lailat Al-Qadr, maka hal itu pada hakikatnya telah cukup untuk membahagiakan manusia.

Kekhususan dan Keistimewaan Ramadhan dalam Al-Qur’an dan Hadis

Tentang keutamaan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda: “Aku melihat seorang laki-laki dari umatku terengah-engah kehausan, maka datanglah kepadanya puasa bulan Ramadhan lalu memberinya minum sampai kenyang” [HR. At-Tirmidzi, Ad-Dailami & Ath-Thabrani].

Kemuliaan bulan Ramadhan tidak terbatas pada hadis di atas, ada 9 hal yang menjadikan bulan ramadhan menjadi khusus dan istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, berikut daftarnya:

1. Bulan Ramadhan diberkahi oleh Allah SWT.

Dibukakan pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup. setan-setan dibelenggu. Sabda Rasulullah SAW :

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةُ وَ غُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Apabila datang bulan Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan diikat (dibelenggu).” [HR. Bukhari dan Muslim]

2. Waktu yang Mustajab untuk Berdoa.

لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُوْ بِهَا فِيْ رَمَضَانَ

“Setiap muslim memiliki doa yang mustajab (terkabulkan) yang ia berdoa dengannya pada bulan Ramadhan.” [HR. Ahmad]

ثَلاَثٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : الصَّائِمُ حِيْنَ يُفْطِرُ وَ اْلإِمَامُ الْعَادِلُ وَ دَعْوَةُ المَظْلُوْمِ

“Tiga hal yang tidak tertolak doa mereka : orang yang puasa ketika berbuka, imam (pemimpin) yang adil, doa orang yang terdzolimi.” [HR. Ahmad]

3. Ramadhan Bulan Turunya Al-Qur’an.

Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi umat manusia dan sebagai penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan batil)”.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَان

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil)” [QS. Al Baqoroh: 185]

4. Puasa Ramadhan adalah Salah Satu Rukun Islam

Ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai takwa, dan salah satu sebab mendapatkan ampunan dosa, pelipatgandaan kebaikan, dan pengangkatan derajat. Allah SWT telah menjadikan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya dari amal-amal ibadah lainnya.

Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan asas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. “(Al-Baqarah: 183).

Firman Allah SWT dalam hadits yang disampaikan oleh Nabi SAW: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum dari pada aroma kesturi.” [HR. Muttafaq ‘Alaih].

Sabda Nabi SAW: “Islam didirikan di atas lima sendi, yaitu: syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke Baitul Haram.” [HR. Muttafaq ‘Alaih].

Dan sabda Nabi SAW: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Muttafaq ‘Alaih].

Maka untuk memperoleh ampunan dengan puasa Ramadhan, harus ada dua syarat berikut ini:

  • Mengimani dengan benar akan kewajiban ini.
  • Mengharap pahala karenanya di sisi Allah SWT.

5. Pada Bulan Mulia ini Disunatkan Shalat Tarawih.

Yakni shalat malam pada bulan Ramadhan, untuk mengikuti jejak Nabi SAW, para sahabat dan Khulafaur Rasyidin. Sabda Nabi SAW: “Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ”  [HR. Muttafaq ‘Alaih]

6. Pada bulan Ramadhan terdapat Lailatul Qadar.

Malam yang lebih baik daripada seribu bulan, atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Malam di mana pintu-pintu langit dibukakan, do’a dikabulkan, dan segala takdir yang terjadi pada tahun itu ditentukan (baca: Anjuran Doa Ramadhan). Sabda Nabi SAW: “Barangsiapa mendirikan shalat pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”  [HR. Muttafaq ‘Alaih]

Malam ini terdapat pada sepuluh malam terakhir, dan diharapkan pada malam-malam ganjil lebih kuat daripada di malam-malam lainnya. Karena itu, seyogianya seorang muslim yang senantiasa mengharap rahmat Allah dan takut dari siksa-Nya, memanfaatkan kesempatan pada malam-malam itu dengan bersungguh-sungguh pada setiap malam dari kesepuluh malam tersebut dengan shalat malam, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, do’a, istighfar dan taubat yang sebenar-benamya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni, merahmati, dan mengabulkan do’a kita.

7. Peristiwa Perang Badar

Pada bulan ini terjadi peristiwa besar yaitu Perang Badar, yang pada keesokan harinya Allah membedakan antara yang haq dan yang bathil, sehingga menanglah Islam dan kaum muslimin serta hancurlah syirik dan kaum musyrikin.

8. Pembebesan Kota Mekkah

Pada bulan suci ini terjadi pembebasan kota Makkah Al-Mukarramah, dan Allah SWT memenangkan Rasul-Nya, sehingga umat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong dan Rasulullah SAW menghancurkan syirik dan paganisme (keberhalaan) yang terdapat di kota Makkah, sehingga Makkah pun menjadi negeri Islam.

9. Pintu Ampunan terbuka Lebar

Perlu diingat, bahwa ada sebagian orang berpuasa tetapi tidak shalat, atau hanya shalat pada bulan Ramadhan saja. Orang seperti ini tidak berguna baginya puasa, haji, maupun zakat. Karena shalat adalah sendi agama Islam yang ia tidak dapat tegak kecuali dengannya. Sabda Nabi SAW:

“Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapat ampunan, maka jika mati ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan: Amin!. Aku pun mengatakan: Amin.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya) “‘ Lihat kitab An Nasha i’hud Diniyyah, him. 37-39.

Maka seyogianya waktu-waktu pada bulan Ramadhan dipergunakan untuk berbagai amal kebaikan, seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a dan istighfar. Ramadhan adalah kesempatan untuk menanam bagi para hamba Allah SAW, untuk membersihkan hati mereka dari kerusakan. Juga wajib menjaga anggota badan dari segala dosa, seperti berkata yang haram, melihat yang haram, mendengar yang haram, minum dan makan yang haram agar puasanya menjadi bersih dan diterima serta orang yang berpuasa memperoleh ampunan dan pembebasan dari api Neraka.

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum ‘at lainnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan. ” (HR.Muslim).

Jadi hal-hal yang fardlu ini dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, dengan syarat dosa-dosa besar ditinggalkan. Dosa-dosa besar, yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman di dunia dan siksaan di akhirat. Misalnya: zina, mencuri, minum arak, mencaci kedua orang tua, memutuskan hubungan kekeluargaan, transaksi dengan riba, mengambil risywah (uang suap), bersaksi palsu, memutuskan perkara dengan selain hukum Allah SWT.

Seandainya tidak terdapat dalam bulan Ramadhan keutamaan-keutamaan selain keberadaannya sebagai salah satu fardhu dalam Islam, dan waktu diturunkannya Al-Qur’anul Karim, serta adanya lailatul dadar -yang merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan- di dalamnya, niscaya itu sudah cukup. Semoga Allah SWT melimpahkan taufik-Nya. Lihat kitab Kalimaat Mukhtaarah, hlm 74 – 76.

7. Kultum Tentang 9 Keutamaan Siyam Puasa Ramadhan yang Jarang Disadari

 

Alhamdulillah pada bulan ramadhan kali ini, kita masih diberi umur yang panjang untuk menambah amalan kita hingga akhir hayat. Ramadhan tidak akan hilang meskipun kita tidak merayakannya. Begitulah untaian yang pantas bagi orang yang tidak senang dengan kedatangan bulan yang suci.

Ada banyak amalan yang menanti untuk dikerjakan, salah satu di antaranya adalah puasa ramadhan. Ada beberapa dalil al-Qur’an maupun hadis Nabi SAW yang menyebutkan kemulian puasa di bulan ramadhan. Dari sekian banyaknya dalil tersebut, kami rangkum  beberapa di antaranya yang populer di masyarakat.

Puasa Meningkatkan Ketataan

Puasa merupakan ibadah yang paling utama dan ketaatan yang paling besar sehingga Allah SWT  mewajibkan puasa kepada semua umat manusia sejak dahulu.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِب عَلىَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kalian puasa, sebagaimana diwajibkan puasa bagi orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” [QS. Al Baqoroh: 183]

Mendapatkan Ampunan

Orang yang berpuasa akan mendapat ampunan dari Allah dan pahala yang besar, sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِيْنَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِيْنَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِيْنَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِيْنَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِيْنَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيْمُا

“Sesungguhnya kaum muslimin dan kaum Muslimat, kaum Mukminin dan kaum Mukminat, orang-orang yang taat laki-laki dan perempuan, orang-orang yang jujur laki-laki dan perempuan, orang-orang yang sabar laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka bersedekah laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka berpuasa laki-laki dan perempuan, orang-orang yang memelihara kehormatan laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka menyebut-nyebut nama Allah banyak sekali, laki-laki dan perempuan, maka Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. ” [QS. Al Ahzab: 35]

Sabda Rasulullah SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.  [HR. Bukhary & Muslim]

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلىَ الْجُمُعَةِ وَ رَمَضَانُ إِلىَ رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُمَا إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dan dari Ramadhan ke Ramadhan, menghapus semua dosa yang terjadi di antaranya apabila dijauhi dosa-dosa besar”. [HR. Muslim]

Puasa adalah Tameng dari Api Nearaka

Puasa berfungsi sebagai tameng (perisai) dari api neraka. Sabda Rasulullah SAW:

الصّيِامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ اْلقِتَالِ

“Puasa itu perisai/penangkal dari api neraka seperti perisai bagi salah seorang kalian dari perang” [HR. Ahmad]

Puasa Mengekang Hawa Nafsu

Puasa berfungsi sebagai pengekang hawa nafsu syahwat. Sabda Rasulullah SAW:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّه ُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ أَحْصَنُ لِلْفَرَجِ وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah karena ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih membentengi kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa merupakan obat penawar gejolak syahwat”. [HR. Bukhari & Muslim]

Pahala Surga bagi yang Mengerjakan

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ t قاَلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، مُرْنِيْ بِأَمْرٍ يَنْفَعُنِيَ اللهُ بِهِ، قاَلَ: عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ

“Dari Abu Umamah ra ia berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah aku satu amalan yang Allah akan memberiku manfaat dengannya (masuk surga).” Maka beliau bersabda : “Lakukanlah puasa, tak ada amalan yang setara dengannya”. [HR. Nasa’i]

Disediakan pintu khusus di surga bagi orang yang berpuasa, bernama Royyan yang tidak dimasuki kecuali oleh orang yang berpuasa. Sabda Nabi SAW:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ، فَيَقُوْلُوْنَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ

“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu yang bernama Ar-Royyan, pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa masuk melewati pintu itu. dan tidak diperkenankan masuk ke dalamnya kecuali mereka. Maka dikatakan : “Mana orang-orang yang berpuasa ?” Maka mereka berkata : Tidak diperkenankan masuk ke dalamnya kecuali mereka, apabila mereka telah memasukinya maka ditutuplah pintu itu dan tidak seorang pun yang masuk ke dalamnya kecuali mereka”. [HR. Bukhari & Muslim]

Pahala Puasa Langsung dari Allah SWT

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” [HR. Muslim]

Dua kesenangan bagi yang Mengerjakannya

Allah secara langsung menyatakan bahwa puasa dapat menerbitkan kebahagiaan pada hati orang-orang yang melaksanakannya. Beban saat berpuasa menahan segala keinginan syahwat kelak berakhir dengan berjuta kebaikan yang menyenangkan, baik di dunia, maupun di akhirat. Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” [muttafaq ‘alaihi]

Memiliki Bau Mulut Harum di Sisi Allah SWT

Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada aroma misk, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، اَلْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلىَ سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قاَلَ اللهُ تَعَالىَ: إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَ طَعَامَهُ وَ شَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَ فَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَ لَخُلُوْفُ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

“Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan aku yang langsung membalasnya. Ia telah meninggalkan syahwat , makan dan minumnya karena Aku”. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi”. (HR. Bukhari & Muslim]

Mendapatkan Syafaat di Akhirat

Puasa akan memberi syafaat (pertolongan kepada orang yang berpuasa kelak pada hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

الصِّيَامُ وَ الْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُوْلُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَ الشَّهْوَةَ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ. وَ يَقُوْلُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ فَيَشْفَعَانِ

“Puasa dan Al Qur’an memberi syafaat kepada hamba Allah pada hari kiamat. Puasa berkata: “Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya makan minum dan syahwatnya pada siang hari, maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya”. Dan Al Qur’an pun berkata: “ Aku telah menghalanginya tidur pada malam, maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya.” [HR. Ahmad]

8. Pahala Sedekah dan Berbagi di Bulan Ramadhan [Kisah Teladan Nabi]

 

Pahala Sedekah dan Berbagi di Bulan Ramadhan – Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa bulan ramadhan adalah salah satu deretan bulan yang mulia di antara bulan lainnya. Di dialam ramadhan dianjurkan untuk memperbanyak amalan utama serta doa untuk meraih ampunan Allah SWT.

Dari kesekian banyak amaliyah ramadhan, salah satu amalan yang tidak luput dikerjkan oleh Nabi Saw adalah memperbanyak sedekah. Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau Saw ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau SAW setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al-Qur’an. Rasulullah SAW ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” [Bukhari & Muslim]

Hadits ini diriwayatkan juga oleh imam Ahmad dengan tambahan: “Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.” Dan menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah ra: “Rasulullah SAW jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta.”

Kedermawanan adalah sifat murah hati dan banyak memberi. Allah SWT pun bersifat Maha Pemurah, Allah Maha Pemurah, kedermawanan-Nya berlipat ganda pada waktu-waktu tertentu seperti bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, juga paling mulia, paling berani dan amat sempurna dalam segala sifat yang terpuji; kedermawanan beliau SAW pada bulan Ramadhan berlipat ganda dibanding bulan-bulan lainnya, sebagaimana kemurahan Tuhannya berlipat ganda pada bulan ini.

Meneladani Sifat Dermawan Nabi SAW saat Bulan Ramadhan

Sebagaimana yang telah kami kemukakan di atas, berbagi dan bersedakah merupakan salah satu ibadah utama ramadhan yang harus dilakukan oleh tiap muslim yang mampu untuk mengerjakannya. Beberapa alasan berikut dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW di bulan ramadhan:

1. Kesempatan Mendulang Pahala

Sedekah dan berbagi di bulan ramadhan merupakan kesempatan yang amat berharga untuk melipatgandakan amal kebaikan. Bila kita memiliki rezki yang lebih tidak ada salahnya untuk disedekahkan kepada orang yang membutuhkan.

Membantu orang-orang yang berpuasa dan berdzikir untuk senantiasa taat, agar memperoleh pahala seperti pahala mereka; siapa yang membekali orang yang berperang maka ia memperoleh seperti pahala orang yang berperang, dan siapa yang menanggung dengan baik keluarga orang yang berperang maka ia memperoleh pula seperti pahala orang yang berperang.

Dinyatakan dalam hadits Zaid bin Khalid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau Saw bersabda: “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa menguuangi sedikitpun dari pahalanya.” [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi].

Bulan Ramadhan adalah saat Allah berderma kepada para hamba-Nya dengan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api Neraka, terutama pada Lailatul Qadar Allah SWT melimpahkan kasih-Nya kepada para hamba-Nya yang bersifat kasih, maka barangsiapa berderma kepada para hamba Allah niscaya Allah Maha Pemurah kepadanya dengan anugerah dan kebaikan. Balasan itu adalah sejenis dengan amal perbuatan.

2. Kesempatan Meraih Surga

Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersama-sama termasuk sebab masuk Surga. Dinyatakan dalam hadits Ali ra, bahwa Nabi Saw bersabda: “Sungguh di Surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luamya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.” Maka berdirilah kepada beliau seorang Arab Badui seraya berkata: “Untuk siapakah ruangan-ruangan itu wahai Rasulullah?” Jawab beliau Saw: “Untuk siapa saja yang berkata baik, memberi makan, selalu berpuasa dan shalat malam ketika orang-orang dalam keadaan tidur.” [HR. At-Tirmidzi dan Abu Isa berkata, hadits ini gharib].

Semua kriteria ini terdapat dalam bulan Ramadhan. Terkumpul bagi orang mukmin dalam bulan ini; puasa, shalat malam, sedekah dan perkataan baik. Karena pada waktu ini orang yang berpuasa dilarang dari perkataan kotor dan perbuatan keji. Sedangkan shalat, puasa dan sedekah dapat menghantarkan pelakunya kepada Allah SWT.

3. Kesempatan Menghapus Dosa

Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersama-sama lebih dapat menghapuskan dosa-dosa dan menjauhkan dari api Neraka Jahannam, terutama jika ditambah lagi shalat malam. Dinyatakan dalam sebuah hadits bahwa Nabi SAW bersabda:

“Puasa itu merupakan perisai bagi seseorang dari api Neraka, sebagaimana perisai dalam peperangan” [HR. Ahmad, An-Nasa’i & Ibnu Majah dari Ustman bin Abil-‘Ash] juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya serta dinyatakan shahih oleh Hakim dan disetujui Adz-Dzahabi.

Diriwayatkan juga oleh Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: “Puasa itu perisai dan benteng kokoh yang melindungi seseorang) dari api Neraka“. Dan hadis Mu’adz yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sedekah dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api“. [HR. At-Tirmidzi.

4. Menambal Kekurangan Puasa

Dalam puasa tentu terdapat kekeliruan serta kekurangan. Namun puasa dapat menghapuskan dosa-dosa dengan syarat menjaga diri dari apa yang mesti dijaga. Padahal kebanyakan puasa yang dilakukan kebanyakan orang tidak terpenuhi dalam puasanya itu penjagaan yang semestinya. Dan dengan sedekah kekurangan dan kekeliruan yang terjadi dapat terlengkapi. Karena itu pada akhir Ramadhan, diwajibkan membayar zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan kotor dan perbuatan keji.

Jika ia dapat membantu orang lain yang berpuasa agar kuat dengan makan dan minum maka kedudukannya sama dengan orang yang meninggalkan syahwatnya karena Allah, memberikan dan membantukannya kepada orang lain.

Untuk itu disyari’atkan baginya memberi hidangan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa bersamanya, karena makanan ketika itu sangat disukainya, maka hendaknya ia membantu orang lain dengan makanan tersebut, agar ia termasuk orang yang memberi makanan yang disukai dan karenanya menjadi orang yang bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat makanan dan minuman yang dianugerahkan kepadanya, di mana sebelumnya ia tidak mendapatkan anugerah tersebut. Sungguh nikmat ini hanyalah dapat diketahui nilainya ketika tidak didapatkan. [Lihat kitab Larhaa’iful Ma’arif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 172-178]

9. Doa Ketika Lailatul Qadar [Malam 1000 Bulan] Sesuai Sunnah Nabi SAW

 

Doa Ketika Lailatul Qadar yang Disunnahkan Dibaca Berdasarkan Tuntunan Nabi Muhammad SAW.

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.”

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya. Doa di atas adalah doa yang berkaitan dengan sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan dan punya kaitan dengan Lailatul Qadar.

Doa tersebut menjadi sangat istimewa karena diajarkan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam istri tercinta beliau, ummul mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Yaitu saat ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?” kemudian Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.” (HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Imam al-Tirmidzi dan al-Hakim menshahihkannya)

Kata “Al-‘Afuww” disebutkan lima kali dalam Al-Qur’an.

Pertama, disebutkan bersama nama-Nya “Al-Qadir”.

إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

“Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. Al-Nisa’: 149)

Terkadang seseorang memaafkan kesalahan orang lain karena dia tidak mampu membalas atas keburukannya. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan, Dia memaafkan, padahal Dia kuasa membalas keburukan (dosa) hamba. Maka ini adalah pemberian maaf yang sebenarnya dan sangat istimewa.

Kedua, penyebutan nama al’Afuww yang lainnya digandeng dengan nama-Nya “Al-Ghafur”.

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

“Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Nisa’: 43)

فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا

“Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Nisa’: 99)

Ayat-ayat yang menyebutkan nama Allah “Al-‘Afuww” yang memiliki sifat pemberi maaf, sesungguhnya menunjukkan bahwa Allah senantiasa dikenal bersifat pemaaf. Senantiasa mengampuni dan memberi maaf kepada hamba-hamba-Nya, walau mereka sering berdosa kepada-Nya. Dan mereka sangat berhajat kepada maaf-Nya sebagaimana mereka berhajat kepada rahmat dan kemurahan-Nya. Bahkan bisa dikatakan, kebutuhan mereka kepada maaf Allah lebih daripada kebutuhan mereka kepada makan dan minum. Kenapa? Karena kalau tidak memberikan maaf kepada penduduk bumi, niscaya hancur dan binasalah mereka semua dengan dosa-dosa mereka.

Sifat maaf Allah adalah maaf yang lengkap, lebih luas dari dosa-dosa yang dilakukan hamba-Nya. Apalagi kalau mereka datang dengan istighfar, taubat, iman, dan amal-amal shalih yang menjadi sarana untuk mendapatkan maaf Allah. Sesungguhnya tidak ada yang bisa menerima taubat para hamba dan memaafkan kesalahan mereka dengan sempurna kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kata ‘afaa Memiliki Dua Makna dalam Al-Qur’an

Kalimat ‘afaa, secara bahasa –sebagaimana yang disebutkan dalam kamus- memiliki dua makna:

Pertama, memberi dengan penuh kerelaan. Ini seperti kalimat, “A’thaituhu min maali ‘afwan”, maknanya: aku beri dia sebagian dari hartaku yang berharga dengan penuh kerelaan tanpa diminta. Ini seperti firman Allah Ta’ala:

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan” (QS. Al-Baqarah: 219) sehingga itu dikeluarkan dengan penuh keridhaan. Wallahu a’lam.

Kedua, al-izalah (menghilangkan/menghapus). Seperti kalimat, “‘Afatir riihu al-atsara” artinya: angin telah menghilangkan/menghapus jejak. Contoh nyata terdapat dalam catatan sirah nabawiyah (sejarah perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) tentang perjalanan hijrah: Saat beliau bersembunyi di goa Tsur bersama Abu Bakar, adalah Asma’ binti Abu Bakar membawakan makanan untuk keduanya. Maka terdapat dalam catatan:

فأمر غلامه أن يعفوآثار أقدام أسماء حتى لا يعرف الكفار طريق النبي

“Maka ia memerintahkan budaknya agar menghilangkan/menghapus jejak kaki Asma’ sehingga orang-orang kafir tidak tahu jalur yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Maka ada tiga kandungan dalam nama Allah “Al-‘Afuww’ ini: Menghilangkan dan menghapuskan, lalu ridha, kemudian memberi. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan, menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya dan bekas dosa tersebut. Lalu Allah meridhai mereka. Kemudian sesudah meridhai, Dia memberi yang terbaik (maaf) tanpa mereka memintanya.

Perbedaan antara al’Afuww (Maha Pemaaf) dan al-Ghaffar (Maha Pengampun)

Supaya kita bisa merasakan keistimewaan nama Allah al-‘Afuww (Mahapemaaf) dengan sebenarnya, maka kita ketahui perbedaan antara dia dengan al-Ghaffar. Pada dasarnya, semua nama Allah adalah sangat baik. Tapi al-‘Afuww itu memiliki makna lebih dalam daripada maghfirah. Karena maghfirah, adalah ampunan dosa namun dosa itu masih ada. Dosa tersebut ditutupi oleh Allah di dunia dan di akhirat nanti juga ditutupi dari pandangan makhluk. Sehingga Allah tidak menyiksa seseorang dengan dosa tersebut, tapi dosa itu masih ada.

Adapun maaf, maka dosa yang dilakukan hamba sudah tidak ada. Kayak-kayaknya ia tidak pernah melakukan kesalahan. Karena dosa itu telah dihilangkan dan dihapuskan sehingga bekasnya tidak lagi terlihat. Dari sisi ini, pemberian maaf lebih istimewa.

Boleh jadi seseorang melakkan dosa-dosa keculi, ia tidak banyak ibadah di Lailatul Qadar atau tidak mendapatkannya, maka ia datang di hari kiamat akan mendapati Allah sebagai Mahapengampun. Namun nanti dosa-dosa itu akan ditampakkan dan disuruh ia mengakuinya.

Berbeda dengan yang -boleh jadi- melakukan dosa besar, lalu ia bertaubat, giat ibadah di Lailatul Qadar sehingga mendapatkannya, maka di hari kiamat ia memperoleh maaf. Maka Allah Maha pemaaf tidak lagi menyebutkan kesalahan-kesalahannya, karena sudah dihapuskan. Adapun al-Ghafur (Mahapengampun), terkadang dosanya masih disebut dan dinampakkan, namun Dia tidak menyiksa/menghukum karenanya.

Perbedaan keduanya, terlihat jelas dalam dua hadits berikut ini:

Pertama, hadits tentang datangnya seorang hamba pada hari kiamat, lalu Allah Tabarakan wa Ta’ala berfirman kepadanya: “Wahai hamba-Ku, mendekatlah!” Maka hamba tadi mendekat. Lalu Allah menurunkan tabir penutup atasnya, dan bertanya padanya: “Apakah kamu ingat dosa ini? Apakah kamu ingat dosa itu?” -Dan ini menunjukkan bahwa bekas dosa itu masih ada dalam catatan amal-. Lalu hamba tadi menjawab, “Ya, masih ingat wahai Rabb.” Hamba tadi mengira akan binasa. Lalu Allah berfirman padanya: “Aku telah tutupi dosa itu atasmu di dunia, dan hari ini Aku beri ampunan atas dosa itu untukmu.” Ini adalah maghfirah.

Sedangkan al-‘afuww (pemaafan atas dosa), maka Allah akan berfirman pada hari kiamat kepada seseorang yang telah dimaafkan-Nya, “Wahai fulan, Sesungguhnya aku telah ridha kepadamu karena perbuatanmu di dunia, Aku telah ridha kepadamu dan memaafkanmu, maka pergilah dan masuklah ke dalam surga.”

Al-afuww adalah apa yang didapatkan hamba pada hari kiamat, saat Allah berfirman kepadanya: Wahai hambaku, berangan-anganlah dan berkeinginanlah, maka sungguh Aku telah mengampunimu.” Maka tidaklah engkau berangan-angan terhadap sesuatu kecuali aku berikan kepadamu itu.” Wallahu Ta’ala A’lam.

Catatan: Dianjurkan untuk membanyak doa pada malam yang agung ini, Lailatul Qadar. Doa apa saja yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat, dianjurkan untuk dimunajatkan kepada Allah di malam itu, karena ia termasuk waktu mustajab. Tidak khusus hanya doa di atas saja.

10. Tata Cara mengerjakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha Berdasarkan tuntunan Nabi SAW

Susunan Teks KultumAssalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Shalat idul fitri dan idul adha terdiri dari dua raka’at dan tata caranya serupa dengan shalat sunah dua raka’at pada umumnya (baca: panduan sholat lengkap). Perbedaannya hanya terletak pada jumlah takbir sebelum membaca Al-Fatihah dalam setiap raka’at.

1. Pada rakaat pertama takbir sebanyak tujuh kali termasuk takbiratul ihram. Dan diantara sela-sela takbir tidak terdapat bacaan tertentu.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى ، فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتَيِ الرُّكُوعِ

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW bertakbir dalam shalat idul fithri dan idul adha sebanyak tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua, selain dua kali takbir saat hendak ruku’. (HR. Abu Daud no. 1152, Ibnu Majah no. 1280, dan Ahmad, 6/70)

عَنْ عَمْرِوِ بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اَللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلتَّكْبِيرُ فِي اَلْفِطْرِ سَبْعٌ فِي اَلْأُولَى وَخَمْسٌ فِي اَلْآخِرَةِ, وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا

Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya RA berkata: Nabi Allah SAW bersabda, “Takbir dalam shalat idul fithri adalah tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua. Sedangkan bacaan Al-fatihah (dan surat) adalah setelah takbir dalam kedua raka’at tersebut.” (HR. Abu Daud no. 1151. At-Tirmidzi dalam Al-‘Ilal Al-Kabir, 1/288, menyatakan bahwa imam Bukhari menshahihkannya)

2. Seusai takbir imam membaca Al-Fatihah kemudian membaca surat dari Al-Qur’an.

(وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ: كَانَ اَلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي اَلْأَضْحَى وَالْفِطْرِ بِـ (ق) وَ (اقْتَرَبَتْ

Abu Waqid Al-Laitsi RA berkata: “Nabi SAW membaca dalam shalat idul adha dan idul fithri surat Qaf (pada raka’at pertama) dan surat Iqtarabat (Al-Qamar pada raka’at kedua).” (HR. Muslim no. 891, Tirmidzi no. 534, dan Ibnu Majah no. 1282)

Dari Nu’man bin Basyir RA berkata: “Nabi SAW membaca dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at surat sabbihisma rabbikal a’la (al-A’la) dan hal ataka haditsul ghasyiyah (al-ghasyiyah).” (HR. Muslim no. 878)

Setelah itu, semua gerakan shalat serupa dengan tata cara shalat lainnya: ruku’, I’tidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, lalu bertakbir dan berdiri untuk raka’at kedua.

3. Pada rakaat kedua imam takbir sebanyak enam kali dengan takbir qiyam (berdiri dari sujud).

4. Kemudian membaca surat Al-Fatihah dan Suarat Al-Qur’an lainya.

قال رسول الله صم التكبير في الفطر سبع في الألى وخمس في أخره

”Rasulullah saw bersabda: Takbir pada hari raya sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan sebanyak lima kali pada rakaat akhir.”(HR. Bukhari).

Tata Cara Pelaksanaan Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha

Setelah selesai sholat idul fitri, imam disunahkan menyampaikan khutbah.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ: كَانَ اَلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ, وَعُمَرُ: يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ اَلْخُطْبَةِ

Dari Ibnu Umar RA berkata: “Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar melakukan shalat dua hari raya sebelum khutbah.” (HR. Bukhari no. 963 dan Muslim no. 888)

Berikut ini tata cara khutbah idul fithri:

Nabi SAW dan khulafaur rasyidun menyampaikan khutbah idul fithri dengan berdiri tanpa menggunakan mimbar. Mimbar khutbah idul fithri baru pertama kali diadakan pada zaman gubernur Madinah, Marwan bin Hakam, pada zaman daulah Umawiyah.

Sebagaimana khutbah lainnya, khutbah idul fitri diawali dengan tahmid dan syahadatain, bukan dengan takbir. Pendapat yang lebih kuat, khutbah hanya sekali, bukan dua kali sehingga tidak perlu ada duduk di antara dua khutbah

Mendengarkan khutbah iid hukumnya sunah. Jama’ah shalat iid boleh langsung pulang seletah shalat iid tanpa mendengarkan khutbah. Namun lebih utama ikut mendengarkan khutbah sampai selesai.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى ، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ ، وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ ، وَيُوصِيهِمْ ، وَيَأْمُرُهُمْ ، فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ ، أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ ” قَالَ أَبُو سَعِيدٍ : فَلَمْ يَزَلِ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى خَرَجْتُ مَعَ مَرْوَانَ – وَهُوَ أَمِيرُ المَدِينَةِ – فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ ، فَلَمَّا أَتَيْنَا المُصَلَّى إِذَا مِنْبَرٌ بَنَاهُ كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ ، فَإِذَا مَرْوَانُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَقِيَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ ، فَجَبَذْتُ بِثَوْبِهِ ، فَجَبَذَنِي ، فَارْتَفَعَ ، فَخَطَبَ قَبْلَ الصَّلاَةِ ” ، فَقُلْتُ لَهُ : غَيَّرْتُمْ وَاللَّهِ ، فَقَالَ: أَبَا سَعِيدٍ قَدْ ذَهَبَ مَا تَعْلَمُ ” ، فَقُلْتُ : مَا أَعْلَمُ وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ ، فَقَالَ : إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَجْلِسُونَ لَنَا بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَجَعَلْتُهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ “

Dari Abu Said Al-Khudri RA berkata, “Rasulullah SAW keluar pada hari idul fithri dan idul adha menuju al-mushalla (tanah lapang), dan hal yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat iid. Setelah selesai, beliau menghadapkan wajahnya ke arah masyarakat. Masyarakat duduk dalam shaf mereka, maka beliau memberi ceramah, memberi wasiat dan memerintahkan kebajikan kepada mereka.

Jika beliau hendak mengirim pasukan, beliau memotong sebentar khutbahnya. Jika hendak memerintahkan sesuatu, maka beliau perintahkan dahulu baru kemudian melanjutkan khutbahnya. Demikianlah keadaan yang berjalan, sampai datang masa aku keluar untuk shalat idul fitri atau idul adha bersama gubernur Madinah, Marwan bin Hakam. Ketika kami tiba di tempat shalat, ternyata sudah tersedia mimbar yang dibangun oleh Katsir bin Shalth. Marwan hendak naik ke mimbar berkhutbah sebelum shalat, maka aku menarik bajunya. Namun ia menghentakkan diriku, lalu naik ke mimbar dan berkhutbah.

Aku berkata: “Engkau telah merubah-rubah, demi Allah.” Ia menjawab, “Wahai Abu Sa’id, tata cara yang engkau kenal sudah berlalu.” Aku menjawab, “Tata cara yang aku kenal, demi Allah, lebih baik dari tata cara yang tidak aku kenal.” Ia berkata: “Masyarakat tidak mau duduk mendengarkan khutbah kami (bani Umayyah-edt) setelah shalat iid, maka kami merubah khutbah menjadi sebelum shalat (agar masyarakat terpaksa mendengar khutbah kami—edt).” (HR. Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889)

11. Inilah Macam-Macam Hari Raya Islam yang Boleh diperingati

Hari raya adalah saat berbahagia dan bersuka cita. Kebahagiaan dan kegembiraan kaum mukminin di dunia adalah karena Tuhannya, yaitu apabila mereka berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala amalnya dengan kepercayaan terhadap janji-Nya kepada mereka untuk mendapatkan anugerah dan ampunan-Nya. Allah Ta ‘ala berfirman : “Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.

Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” (Yunus: 58).

Sebagian orang bijak berujar: “Tiada seorang pun yang bergembira dengan selain Allah kecuali karena kelalaiannya terhadap Allah, sebab orang yang lalai selalu bergembira dengan permainan dan hawa nafsunya, sedangkan orang yang berakal merasa Senang dengan Tuhannya.”

Macam-Macam Hari Raya Islam yang Boleh diperingati!!!

Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, kaum Anshar memiliki dua hari istimewa, mereka bermain-main di dalamnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik, (yaitu) ‘Idul fitri dan ‘Idul Adha (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i dengan sanad hasan).

Hadits ini menunjukkan bahwa menampakka rasa suka cita di hari Raya adalah sunnah da disyari’atkan. Maka diperkenankan memperluas hari Raya tersebut secara menyeluruh kepada segenap kerabat dengan berbagai hal yang tidak diharamkan yang bisa mendatangkan kesegaran badan dan melegakan jiwa, tetapi tidak menjadikannya lupa untuk ta’at kepada Allah.

Adapun yang dilakukan kebanyakan orang di saat hari Raya dengan berduyun-duyun pergi memenuhi berbagai tempat hiburan dan permainan adalah tidak dibenarkan, karena hal itu tidak sesuai dengan yang disyari’atkan bagi mereka seperti melakukan dzikir kepada Allah.

Hari Raya tidak identik dengan hiburan, permainan dan penghambur-hamburan (harta), tetapi hari Raya adalah untuk berdzikir kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Makanya Allah gantikan bagi umat ini dua buah hari Raya yang sarat dengan hiburan dan permainan dengan dua buah Hari Raya yang penuh dzikir, syukur dan ampunan.

Di dunia ini kaum mukminin mempunyai tiga hari Raya: hari Raya yang selalu datang setiap minggu dan dua hari Raya yang masing-masing datang sekali dalam setiap tahun.

Adapun hari Raya yang selalu datang tiap minggu adalah hari Jum’at, ia merupakan hari Raya mingguan, terselenggara sebagai pelengkap (penyempurna) bagi shalat wajib lima kali yang merupakan rukun utama agama islam setelah dua kalimat syahadat.

Sedangkan dua hari Raya yang tidak berulang dalam waktu setahun kecuali sekali adalah:

1. ‘Idul Fitri setelah puasa Ramadhan, hari raya ini terselenggara sebagai pelengkap puasa Ramadhan yang merupakan rukun dan asas Islam keempat. Apabila kaum muslimin merampungkan puasa wajibnya, maka mereka berhak mendapatkan ampunan dari Allah dan terbebas dari api Neraka, sebab puasa Ramadhan mendatangkan ampunan atas dosa yang lain dan pada akhirnya terbebas dari Neraka.

Sebagian manusia dibebaskan dari Neraka padahal dengan berbagai dosanya ia semestinya masuk Neraka, maka Allah mensyari’atkan bagi mereka hari Raya setelah menyempurnakan puasanya, untuk bersyukur kepada Allah, berdzikir dan bertakbir atas petunjuk dan syari’at-Nya berupa shalat dan sedekah pada hari Raya tersebut.

Hari Raya ini merupakan hari pembagian hadiah, orang-orang yang berpuasa diberi ganjaran puasanya, dan setelah hari Raya tersebut mereka mendapatkan ampunan.

2. ‘Idul Adha Oiari Raya Kurban), ia lebih agung dan utama daripada ‘Idul Fitri. Hari Raya ini terselenggara sebagai penyempurna ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima, bila kaum muslimin merampungkan ibadah hajinya, niscaya diampuni dosanya.

Inilah macam-macam hari Raya kaum muslimin di dunia, semuanya dilaksanakan saat rampungnya ketakwaan kepada Yang Maha Menguasai dan Yang Maha Pemberi, di saat mereka berhasil memperoleh apa yang dijanjikan-Nya berupa ganjaran dan pahala. (Lihat Lathaa’iful Ma’arif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 255-258)

12. Langkah demi Langkah Meraih Cinta Ilahi di Bulan Ramadhan

Cinta adalah kata yang selalu dinanti oleh semua orang. Suami kepada istri, orang tua kepada anak, pimpinan kepada bawahan, dst. Begitu juga dengan seoarang muslim selalu menanti cinta dari pemberi kehidupan, terutama di bulan ramadhan.

Ada beberapa kiat untuk mendapatkan cinta ilahi di bulan Ramadhan. Namun, akan kami awali dengan pembahasan seputar pengertian cinta dan hal-hal yang memicu perasaan cinta muncul.

Cinta berasal dari bahasa rab disebut al-hubb, atau mahabbah. Mahabbah, oleh sebagian ulama bahasa disamakan dengan al-Mawaddah yang memiliki definisi mailul qalbi ila syai’in mu’ayyinin, artinya kecenderungan hati terhadap hal-hal tertentu. Kecendrungan hati ini, dibangun atas 3 asas:

Asas Kemanfaatan

Segala sesuatu yang memudahkan kita, memberi kita manfaat akan membuat kita menyenanginya mencintainya. Seperti mobil, rumah dan lain sebagainya. Namun ketika manfaat itu hilang kemungkinan besar ketertarikan dan kecintaan itu hilang.

Asas Kelezatan

Segala yang indah membuat kita senang, tidak ada orang yang tidak suka dengan suara merdu, pemandangan indah, makanan enak, hal-hal yang membangkitkan perasaan senang

Asas Keutamaan

Seperti halnya orang yang lebih cantik, orang yang lebih ganteng, lebih pintar dan yang lainnya: atau di dalam Al-Qur’an dikisahkan cerita nabi Yusuf:

فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah (satu) malak yang mulia”.  [QS Yusuf: 31]

Ketiga asas ini, merupakan alasan pokok mengapa kita mencintai sesuatu. Di dalam kehidupan manusia di dunia, Allah menjadikan tiga asas ini ke dalam berbagai macam bentuk dengan tujuan untuk dijadikan sebagai karunia, sebagi cobaan dan sebagai musibah.

Tata Cara Menggapai Cinta Ilahi di Bulan Ramadhan

Si A yang diberi kelezatan, kemulian, kemanfatan, akan digiring untuk mencintai apa saja yang berhubungan dengan ketiga asas tersebut. Pertanyaanya: Bagaimanakah jika si A diberi hal yang sebaliknya? Tidak diberi Kemuliaan? Kelezatan? dan Kemanfaatan? Apakah ia masih tetap cinta?

Perilaku si A dalam menyikapi hal tersebut bisa saja berbuah karunia jika ia tetap cinta meskipun pahit atau mendapat cobaan jika ia tidak cinta lagi. Di sinilah seorang muslim dituntut mempertahankan rasa cinta kepada pemberi cobaan dengan menyikapinya secara tidak berlebihan.

Tidak ada yang kekal di dunia ini, tidak ada yang abadi dalam memberikan kelezatan, kemanfaatan, serta kemuliaan selain Allah SWT. Oleh karena itu, mencintai apapun di dunia ini harus dilandasi dengan kecintaan kepada Allah SWT.

Jadi langkah awal untuk meraih cinta Allah di bulan ramadhan adalah melakukan segala hal atau apapun di dalam bulan ramadhan berlandaskan cinta kepada Allah SWT.

Lalu bagaimana Cara agar Allah menerima Cinta Kita ?

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [QS Ali-Imran: 31].

Ayat ini menunjukkan bahwa bentuk kecintaan kita kepada Allah harus ditunjukkan dengan mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Karena Rasul adalah salah satu manusia yang berhasil mendapatkan kasih sayang Allah, sehingga mengikuti jalannya adalah jalan yang paling berhasil dalam mendapatkan kecintaan Allah.

Jalan apa yang dibawa oleh Rasul, ialah jalan yang lurus, ajaran Islam. Untuk itulah kenapa Allah menaruh keridhaannya kepada ajaran islam. Mengikuti agama harus dengan tingkat kesyukuran yang tinggi, dan syukur yang tinggi adalah melakukan segala sesuatu dengan niat ikhlas dan sabar.

Maka agar Allah mencintai kita hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengikuti Rasulullah, mengikuti agama Allah (Ajaran islam) dengan penuh rasa syukur, penuh keikhlasan, penuh kesadaran dan penuh kecintaan. Saat hal tersebut telah dilakukan maka Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa kita di bulan ramadhan.

Langkah terakhir dalam meraih cinta ilahi di bulan ramadhan adalah, segala hal yang dilakukan di dalam bulan ramadhan harus mengikuti Rasulullah SAW atau berdasarkan ajaran agama Islam.

Bulan ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk membuktikan cinta kita kepada Allah, karena bulan ini, bulan yang penuh suka cita, bulan dimana Allah melimpahkan kemurahan, rahmat dan kecintaannya.

Ayo perbanyak ilmu mengenai agama ini, siapa lagi yang akan menjadi bagian atas dakwah ini selain kita sendiri? Walaupun hanya kultum singkat, tapi semoga ini adalah salah satu cara untukmu dalam meraih Syurga-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *