Penyuludupan Ayam Bangkok Melalui Pelabuhan Tikus Seruwai Berjalan Mulus

0
193

MEDAN | Lebih dari 10 tahun, praktek penyeludupan unggas Ayam Bangkok di kawasan Pelabuhan Tikus Seruwai, Aceh Tamiang masih berlangsung, dan tidak terjamah hukum.

“Pihak berwajib sudah seharusnya membersihkan kawasan tersebut dari praktek penyeludupan yang kerap terjadi, dengan memanfaatkan perairan lalu lintas kapal warga. Termasuk praktek penyeludupan hewan Unggas Ayam Bangkok yang kemudian diterbangkan melalui cargo di bandara Kualanamu, Kabupaten Deliserdang,” sebut Ketua Forum Wartawan Hanukara Aptanta (FWHA) Majelis Kehormatan Forum Masyarakat Nusantara Indonesia (MKFMNI) Sumut,Anwar Effendi Siregar kepada wartawan, Kamis (12/3/2020)

Berdasarkan pemantauan pihaknya, kata Anwar, praktek penyeludupan ayam Bangkok telah berlangsung selama lebih 10 tahun ini, dengan memanfaatkan oknum-oknum di lapangan. Karenanya selama praktek berlangsung pihak pelaku penyeludup seakan tidak menemui kendala yang berarti.

“Hari ini saja (Kamis 12/3/2020) berdasarkan info relawan di lapangan, aksi pengiriman 400 ekor hewan Unggas Ayam Bangkok, yang dilakukan oknum berinisial SB berjalan mulus diberangkatkan melalui bandara Kualanamu ke penadah di Jakarta,” katanya.

Modus yang dilakukan sepanjang investigasi FWHA Sumut, kata Anwar, Hewan Unggas Ayam Bangkok dimuat di kawasan bangkok, Thailand. Kemudian melalui jalur darat menuju pelabuhan Satun di Bangkok Selatan,

Ayam bangkok yang telah disiapkan di bangkok untuk pengiriman ke pelabuhan satun di bangkok selatan.

Selanjutnya menuju perairan Selat Malaka dengan durasi perjalanan sekira 22 jam. Ketika mendekati perairan pantai Sumatera, muatan Ayam Bangkok di sortir dengan kapal boat berukuran kecil, hingga puluhan kapal.

Kapal-kapal kecil tersebut yang kemudian memasuki pelabuhan tikus di Seruwai, Aceh Tamiang.

“Hingga menggunakan jalan darat tiba di Kualanamu pun, praktek ini seolah lancar-lancar saja. Artinya ada indikasi dugaan pemalsuan dokumen barang yang dilakukan untuk surat jalan dari aparat pemerintahan Dinas Peternakan Aceh Tamiang,” kata Anwar Siregar.

Anwar Siregar menyebut, praktek yang berjalan 10 tahun lebih sangat meresahkan dan merugikan negara. Dan kegiatan itu juga membahayakan bagi pintu masuknya barang gelap, serta sulitnya memantau penyebaran wabah penyakit berbahaya.

Resiko Pintu Gerbang Virus Corona

Berkaitan dengan mewabahnya Virus Corona di dunia, Anwar Siregar menambahkan, prihatin atas wabah yang menjangkiti dunia hingga jatuhnya ribuan korban meninggal.

Indonesia mestinya lebih ketat memantau pintu masuk perbatasan melalui jalur
laut, yang terkesan lebih longgar.

Selain merugikan dari sisi ekonomi, hal ini juga membahayakan kedaulatan negara di batas teritorial. Meski pemerintah telah menugaskan aparat terkait untuk persoalan keamanan di batas teritori, bukan tidak mungkin adanya oknum yang bermain mata. Sehingga praktek penyeludupan bisa terjadi, hingga puluhan tahun berlangsung.

“Aparat terkait baik itu Polri & TNI ataupun petugas Bea dan cukai, agar memberikan perhatian penuh dan komitmen dalam memberantas praktek penyeludupan. Kita ingin berdaulat secara penuh di NKRI yang kita cintai ini,” tandas Anwar Siregar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here